OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ngeyel, tidak mau disalahkan, banyak alasan, banyak pembenaran diri, kalau kepepet tinggal marah meledak-ledak dan main kekerasan sambil teriak-teriak bahwa kita dijahati. Perlukah semua itu? Kenapa kita bersikap demikian? Apa keuntungan dan kerugiannya? Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bayangkan apa yang terjadi bila kita terus menyalahkan orang lain atas kerugian dan kemalangan kita. Apakah situasi akan menjadi lebih baik?

Perlu untuk diketahui bahwa dalam suatu hal buruk, yang harus bertanggung jawab adalah semua pihak yang mengalaminya. Korban maupun pelaku sama-sama adalah pemeran utama terjadinya peristiwa. Kalau tak ada korban, pelaku tak punya kesempatan berbuat jahat. Sebaliknya kalau pelaku dapat mengendalikan diri dalam kebaikan terhadap orang lain, tidak akan ada korban.

Anda tidak bisa menyalahkan salah satu pihak saja dan memaklumi pihak yang lainnya. Keduanya sama-sama bersalah, namun tentunya si pelaku yang memiliki porsi tanggung jawab lebih besar. Alasannya karena pelaku adalah pihak yang beraksi, sedangkan korban adalah pemicu dari aksi tersebut.

Pemicu aksi bisa menimbulkan banyak kemungkinan. Pihak yang beraksi bisa memilih untuk berbuat apa saja dari yang baik hingga buruk, tapi dari setiap pilihan itu dia memilih aksi yang jahat. Itu sebabnya aksi tersebutlah yang terbeban dengan porsi yang lebih berat.

Maka dari itu sungguh aneh bila si pelaku menuduh si korban karena ketidakmampuannya sendiri untuk mengendalikan diri dan memilih pilihan yang baik.

Setiap aksi menimbulkan reaksi juga. Bila seseorang malas, orang lain yang menjadi tanggung jawabnya akan bereaksi, akibatnya dia dituduh macam-macam dan kehilangan rasa hormat dari orang lain. Bila ini sudah terjadi, sungguh lucu bila si pemalas ini menyalahkan reaksi orang terhadapnya sebagai tidak pengertian. Lebih lucu lagi kalau si pemalas ini bersikap defensif dengan mencari-cari alasan yang menyalahkan orang lain. Misalnya dia menuding penyebab dirinya malas adalah halaman rumah bau tai anjing sehingga dia tidak bisa keluar rumah untuk pergi bekerja dan memilih untuk tidur. Alasannya, hanya di kamar saja dia tidak mencium bau tai anjing. Lucunya, ketika rokoknya habis, dia segera meluncur keluar rumah untuk beli rokok, kemudian kembali tidur pulas.

Alasan bisa saja dibuat-buat. dan inilah senjata favorit para pengecut dan pecundang untuk lepas dari tanggung jawab.

Sebaliknya, bersikaplah ksatria dengan mengakui sifat buruk anda. Jangan salah menempatkan kritik yang diberikan orang lain, kritik itu bukan untuk menghina anda, melainkan untuk menjadikan anda orang yang lebih baik lagi. Kritik itu terasa sakit karena dapat membuat anda merasa malu. Maka dari itu kesampingkan ego anda sehingga anda dapat menerima kemurahan hati orang lain yang peduli pada anda itu.

Advertisements