Kamu pasti sudah sering mendengarnya; “lebih baik sendirian daripada hidup bersama orang yang salah”. Seumur hidup saya sudah sering melihat bagaimana kebersamaan antara dua orang yang salah malah berakhir tragis.

Pada awalnya, hanyalah dua orang manusia yang terjebak oleh cinta. Ada dua orang yang terhipnotis oleh ilusi cinta yang telalu cepat untuk disimpulkan. Sebuah kesalahpahaman. Masing-masing mengira bahwa “she’s the one” maupun “he’s the one” sehingga yang terlihat hanyalah yang baik-baiknya saja. Setiap kali menemukan kemiripan dan persamaan di antara kalian, kamu langsung berkata “tuh kan, memang dia jodohku.”

Kamu menjadi abai terhadap perbedaan-perbedaan yang tajam di antara kalian. Baru setelah hubungan berlangsung sedikit lebih lama lagi dan kamu sudah tersadar dari mabuk cinta, kamu menemukan betapa berbedanya kalian berdua.

Akhirnya kata ini pun terlontar; “kamu berubah, kita putus!”

Benarkah Si Dia Berubah?

Kalau dulu si dia nyetel musik favoritnya dan kamu berpikir itu keren, setelah sadar dari mabuk cinta kamu baru merasa betapa begahnya kepalamu saat mendengarkan lagu-lagu Justin Bieber yang disetel pasanganmu itu.

Dulu waktu dia ngajak nonton, kamu rela sport jantung menonton film horor favoritnya. Pengorbanan cinta, katamu. Kini, kamu kesal karena dia memaksamu melakukan hal yang tidak kamu sukai itu terus-terusan. Pengobralan cinta, pikirmu.

Dulu kamu semakin cinta dia karena membuatmu mengenal hal-hal baru. Tapi sekarang setelah mabuknya hilang, kamu jadi kesal karena dia sangat membosankan dengan dunianya yang kamu sebut “alay” itu.

Baru setelah kamu sadar, kamu berkata “cinta itu enaknya di awal doang, ujung-ujungnya sakit hati!”

Padahal tidak ada yang berubah, kamu saja yang saat itu terbutakan oleh kengebetan untuk menjadikan dia pacar kamu. Ngebet untuk bisa cepet-cepet selfie bareng dia, gandengan tangan bareng dia, atau ngebet untuk mencium bibirnya.

Kengebetan itu terjadi karena kamu terlalu gampang untuk melepaskan perasaanmu sebelum kamu memastikan dia memang layak mendapatkannya. Belum apa-apa kamu sudah bilang “cinta mati”. Belum apa-apa sudah baper. Akhirnya ini yang kamu alami : cinta dulu, mati belakangan.

Cinta itu memang soal perasaan, tapi kamu harus bisa mengendalikan perasaan dengan pikiran sebagaimana mengendalikan pikiran dengan hati. Kamu tidak bisa melepaskan perasaan kamu seliar-liarnya. Asal apa kata mata oke, hati kamu harus diobral. Yang penting kamu harus dapetin dia, no matter what!

Wow … lihat betapa jahatnya kamu terhadap hatimu sendiri.

Jangan Obral Hartamu Yang Paling Berharga

Hatimu adalah milikmu yang paling berharga. Kamu boleh hidup sendirian, menjomblo selamanya, asalkan hatimu tetap bersinar sehingga bisa membagikan cinta di sekitarmu. Dosa kamu yang paling utama adalah bila kamu mengobralnya habis-habisan demi seseorang yang baru kamu kenali 1%nya saja! Karena bersama dengan orang yang salah bisa membuat hatimu berhenti bersinar; kamu akan meracuni sekitarmu dengan hatimu yang membusuk.

Sebelum memutuskan untuk memberikan hatimu pada seseorang, kamu harus bisa berpikir jernih.

  1. Apakah kalian terlalu berbeda?
  2. Apakah kamu bisa menerima perbedaan di antara kalian?
  3. Apakah kamu bisa membuatnya merasa dipahami dan dimengerti seutuhnya?
  4. Apakah kamu dan pasangan mau untuk berjuang memelihara cinta kalian?
  5. Apakah kalian bisa tetap saling mencintai dengan segala perbedaan tersebut?

Kamu juga harus bisa mempertimbangkan, apakah dia juga merasakan hal yang sama saat menjawab lima point di atas terhadapmu. Terlalu berbeda dalam artian tidak cocok bisa membuat kalian mental satu sama lain. Bila bukan dia yang menjauh, akhinya kamu yang menjauh!

Orang tidak akan berubah, tapi komitmen bisa dilanggar dan cinta bisa pudar. Ketika cinta itu pudar, kebersamaan hanya akan menjadi beban. Tanggung jawab yang kamu pikul akan menghisap jiwamu hingga kering.

Ngeri, bukan?

Itulah sebabnya, sebelum kamu memutuskan untuk jatuh cinta, berpikirlah jernih terlebih dahulu. Jangan mengobral hati hanya karena kamu berhalusinasi bahwa kalian sangat cocok.

 

 

Advertisements