pexels-photo-14303

I’m going to make this personal; gue sering ditolak. Cinta bertepuk sebelah tangan, itu sudah biasa. Ditolak halus, sering. Ditolak secara kasar, apalagi. Ditolak sebelum PDKT, itu biasa!

Dulu gue menyikapinya dengan bersikap kekanak-kanakan. Gue menyalahkan nasib, takdir, Tuhan, orangtua, bahkan sampai usia dan fisik gue sekalipun. Padahal apa salah mereka? Ini terjadi karena gue terlalu memasukkan ke dalam hati. Pada saat kita ditolak, gue pikir karena ada yang kurang dari diri gue. Padahal sesungguhnya, kita ditolak karena memang dia gak merasakan hal yang sama, dia tidak tertarik seperti itu ke gue.

Mending gede, gue menyikapi penolakan dengan cara “pendekar”. Gue menganggap bahwa alasan gue ditolak adalah karena gue kurang meyakinkan. Untuk itulah gue makin getol ngejar dia. SMS tiap hari, kuntit sosial medianya, sok-sok perhatian, ntraktir, dsb. Seperti yang bisa ditebak, gue gak juga mendapatkan happy ending itu. Gue malah jadi ditolak mentah-mentah dengan kasar, dan dia jadi curhat ke temen-temennya. Akibatnya, gue malah mempermalukan diri sendiri. Saat itu gue gak sadar kalau gue sedang mencoba untuk meyakinkan dia dengan logika (menunjukkan gue suka dan serius sama dia, berinvestasi di lahan hantu). Padahal cinta adalah soal perasaan. Kamu gak bisa membuat orang jatuh cinta denganmu dengan cara mengajak dia berdebat bahwa mencintai kamu adalah hal bagus. Cinta adalah kemana hati berlabuh. Itu sebabnya semakin dikejar, orang yang kamu gandrungi itu akan semakin kabur.

Setelah belajar dari pengalaman, gue baru menyadari bahwa cinta itu gak perlu dikejar. Seperti kebahagiaan. Bedanya, kebahagiaan ada setiap saat, sedangkan cinta, itu hal yang di luar kendali kita. Haus akan cinta bisa membuat kita hampa. Karena kita melupakan seseorang yang harusnya kita cintai dulu sebelum mencintai yang lain; diri sendiri.

Saat kamu cinta pada diri sendiri, kamu tidak akan merasa kesepian walau tidur sendirian. Cinta terhadap diri sendiri membuatmu memilih pilihan yang lebih baik, sehingga menyelamatkan masa depanmu di kemudian hari. Bila kamu mencintai diri sendiri, harga dirimu akan tetap terjaga.

Kamu tidak akan lagi peduli andai cintamu bertepuk sebelah tangan, atau kandas sebelum dimulai. Tidak ada lagi yang namanya galau nyetel lagu-lagu patah hati setelah ditolak. Bila kamu mencintai diri sendiri, saat ditolak kamu akan bersyukur karena masa-masa menghabiskan waktu untuk memperhatikan orang yang takkan mencintaimu itu sudah berakhir; takkan lagi membuang waktu untuk mencintai orang yang salah.

Penolakan bukan akhir dari segalanya, karena kamu mencari pasangan bukan untuk mengisi kehampaan hati. Kamu sudah penuh dan hidupmu sudah sempurna. Kehadiran seorang teman tidak ada salahnya, tidak adapun tidak masalah.

Advertisements