pexels-photo-110573-largeSatu pertanyaan saya : Sudah siap membimbing manusia?

Biar saya tekankan pada dua hal dari pertanyaan itu. Pertama adalah “membimbing”. Kata ini berarti adalah mengarahkan, mengajari, memberi petunjuk. Mungkin dalam bayangan anda, saat menjadi orangtua, anda tidak hanya menjadi pelindung ataupun perawat. Anda juga menjadi seorang guru.

Guru, selama ini kita pahami sebatas “pahlawan tanpa tanda jasa”. Sosok guru menjadi seorang pahlawan, seorang yang memberi pengetahuan pada murid-muridnya; karena dia sudah jago di bidang itu.

Saat anda menjadi orangtua, anak anda masuk kelas kehidupan, dan anda guru utamanya. Guru originalnya. Apakah anda sudah jago mengenai hidup? Apakah anda sudah jago menghadapi beban hidup, dengan segenap aral rintangan, menghadapi orang lain dan beradaptasi mengenai perubahan zaman?

Saat ini anak anda masih kecil, anda tinggal mengajarinya pengetahuan yang sangat mudah. Sekadar bagaimana cara berjalan, cara berbicara, cara makan, dsb. Tapi seiring perkembangan usianya, dia akan menghadapi lebih banyak masalah. Saat dia beranjak remaja, masihkah dia mempercayai bimbingan anda? Apakah dia masih menganggap anda layak untuk menjadi gurunya? Ketika dia tertimpa masalah sulit dan meminta bantuan anda untuk mencari solusinya, apakah anda dapat tampil untuk membantunya?

Sebelum anda berhasil menguasai ilmu-ilmu kehidupan, anda tidak akan mampu membuat anak anda percaya bahwa anda pantas menjadi guru utamanya. Hal ini sangat penting, anda tidak mau anak anda berkeliaran tidak jelas mencari guru pengganti yang dia pilih sendiri, kan?

Hal kedua adalah “manusia”.

Apa itu manusia? Apa artinya menjadi manusia? Bagaimana cara memanusiakan manusia? Kenapa manusia perlu hadir di dunia ini?

Pertanyaan itu adalah dasar dari pengajaran anda dalam kelas kehidupan.

Bila anda memahami manusia sebagai orang lewat, untuk dimanfaatkan. Atau mungkin sebagai sumber duit untuk dikeruk, bisa jadi anda sedang membesarkan seorang psikopat yang tidak punya empati terhadap orang lain.

Bila anda tidak tahu apa artinya menjadi manusia, anak anda juga akan bingung harus berbuat apa dalam hidupnya. Pastinya menjadi manusia bukan sekadar hidup, makan, kerja, bersenang-senang, lalu tidur, kan? Bagi saya, masing-masing dari kita hadir di dunia ini demi sesuatu. Kehadiran setiap orang punya makna bagi yang lainnya.

Orang dekil di pinggir jalan itu, mungkin punya pengaruh besar terhadap orang kaya yang rumahnya lebih besar daripada anda. Dalam suatu waktu, perjalanan hidupnya dapat mengubah dunia. Siapa yang tahu? Toh, anak papi yang penakut dan malas itu ternyata menjadi Charles Darwin. Bocah penyakitan yang lemah itu gak taunya seorang Mozart! Perempuan buta, tuli, bisu, gak taunya Hellen Keller!

Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir bekerja. Salah bila seseorang menganggap bahwa manusia lain tidak ada artinya bila tidak memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri. Salah besar bila seseorang memberi perlakuan berbeda antara orang kaya dengan orang miskin! Nah, apa yang akan anda ajarkan pada anak anda mengenai manusia?

Hal ini berubungan dengan masa depannya. Karena pada dasarnya setiap orang ada untuk membawa misi bagi dunia. Tidak peduli apakah kehadirannya hanya untuk membahagiakan anak-istri, atau untuk memicu revolusi yang mengubah hidup orang banyak. Apakah anda sudah siap menghadapi impian anak-anak anda? Apakah anda sudah siap mendukungnya dan memastikan dia sampai di sana dengan selamat?

Atau anda memilih untuk melindungi anak anda, menjadi tamengnya dalam segala situasi agar dia selalu aman dan hidup selamat? Apakah anda merasa dia lebih baik menjadi seorang pengecut yang kuper tapi minim pengalaman, daripada dia banyak pengalaman tapi mati muda?

Satu nasihat saya … biarkan dia berlari dan tertawa, bersenang-senang dalam mengejar impiannya. Dia bukan anda. Dia adalah manusia lain seperti teman-teman anda, hanya saja dia lahir melalui anda.

Sudah siapkah anda menjadi guru kehidupan?

Advertisements