pexels-photo-70292

Manusia punya logika, itu sebabnya manusia punya kecenderungan untuk mengklasifikasikan apapun yang ada di sekitarnya. Manusia juga lebih nyaman dengan sesuatu yang bisa mereka jelaskan. Itu sebabnya manusia selalu berusaha untuk memahami sesuatu.

Sounds good? Tunggu dulu …

Pada saat seseorang memahami sesuatu, dia akan memahami hal tersebut sejauh pengetahuannya sendiri. Itu sebabnya orang sombong akan lebih mudah melihat sifat sombong dari orang lain.

Di sinilah letak bahaya dari penilaian. Menilai berarti memberi label, memberi klasifikasi. Misalnya, seseorang mengklasifikasikan si A dalam kelas “bodoh”. Kemudian si B dalam kelas “baik”. Bila seseorang sudah dikotak-kotakkan seperti itu, terlebih untuk jangka waktu yang lama, maka itu akan menjadi batasan. Biasanya sulit untuk mengubah pandangan setelah seseorang dikelaskan ke dalam kotak tertentu.

Sebagai contoh, si A yang bodoh itu ternyata menemukan rahasia alam semesta. Pintar sekali, bukan? Namun orang yang biasa menilainya bodoh itu tidak suka bila klasifikasi yang telah lama dia labelkan pada si A akhirnya berubah. Selama ini dia yakin bahwa dia lebih pintar dari si A, dia tidak terima bila terjadi sebaliknya. Itu sebabnya dia akan menyikapi prestasi A dengan kenegatifan. Dia akan menyebut temuan A itu sebagai cerita fiksi, atau terlalu banyak berimajinasi.

Orang tidak suka perubahan. Apalagi perubahan yang merugikan dirinya. Pada saat orang lain yang dinilainya lebih rendah itu ternyata mampu melampaui dia, mereka tidak siap menerimanya.

Inilah yang sesungguhnya terjadi saat seseorang sedang menilai sesuatu: dia mengerdilkan objek tersebut sekerdil standarnya sendiri.

Lucunya, kalau hal itu terlalu tinggi untuk dipahaminya, dia akan menyebutnya dalam kategori “others”, yaitu “gila” atau “aneh”.

Maka dari itu, pada saat anda menilai sesuatu, pastikan penilaian itu bersifat fleksibel.

Advertisements