Sebagai seorang penulis, hal yang paling gue inginkan adalah tulisan gue dapat menginspirasi orang banyak. Suatu hari gue memutuskan untuk menulis tentang dunia tulis menulis dan apa saja yang gue pelajari dari sana. Semua itu gue tuliskan di dalam wattpad.com dengan judul “So, you wanna be a writer?” dalam bahasa Indonesia.

Gue cukup senang karena banyak orang yang datang untuk membaca meninggalkan pesan bahwa mereka terinspirasi dari tulisan-tulisanku di sana. Senang, karena itu adalah sukses buatku. Dengan kata lain, gue jadi motivator untuk dunia tulis menulis dong? Hehe …

Menilik dari kasus yang sedang hangat yang menimpa seorang motivator kondang made in Indonesia (James Gwee made in Singapore, bro!), gue jadi sedikit bercermin. Apakah orang-orang yang terinspirasi dengan tulisan gue itu, bakal kecewa kalau tahu siapa gue aslinya? Kalau mereka tahu sejelek-jeleknya gue, apa mereka bakal kecewa? Lebih dari itu, apa semua inspirasi yang gue berikan untuk mereka akan jadi sia-sia?

Pernah ada seseorang yang datang dan kenalan gitu, dia bilang gue luar biasa, awesum, dsb. Tapi gue pikir itu semua berlebihan. Jadi gue kasih warning duluan, “gue gak sesempurna yang lu pikir.”

Tapi berhubung dia cukup baik ke gue, jadi gue tetap memelihara hubungan. Ehh… beneran. Belakangan begitu dia tahu sifat-sifat buruk gue, dia langsung kecewa dan banding-bandingin gue ke orang-orang lain. Udah gitu dibandinginnya dalam situasi yang gak gue inginkan pula! Gue sama sekali ga ada niat untuk jadi pacar dia, kenapa dia bandingin gue dengan deretan orang-orang yang punya hubungan romantik dengan dia? Udah gitu kata-kata yang dia pakai tersusun sedemikian rupa biar gue merasa gue paling rendah, paling ga penting.

Sebenernya salah gue juga sih. Dari awal gue sudah tahu nih orang gak memandang gue apa adanya. Dia mencintai fantasi dia tentang gue, bukan gue yang sebenarnya. Dilengkapi dengan pikiran yang imajinatif dari manga dan drama korea, selama gue bergaul dengan dia, gue merasa jadi salah satu love interest tokoh utama yang sok cool tapi mau (BEOUHHH!!) yang akhirnya didepak oleh si tokoh utama gara-gara dia menyadari cinta sejatinya adalah si looser yang selama ini banyak berkorban demi dia. Udah gitu gue juga yang dikatain drowned in my own imagination!

Dari pengalaman ini, gue belajar… sudah cukup deh. Kalau seseorang terlalu berlebihan memandang gue, kalau seseorang melihat gue sebagai wujud dari fantasi dia… mending cut aja dari awal. Kita gak akan pernah bisa mengubah siapapun. Granted, dulu gue berharap semua orang jadi lebih sedikit pemurah dengan membuka hati untuk memberi kesempatan gue untuk berubah … tapi sekarang gue sadar. Leave it or take it merupakan strategi terbaik dalam bersosial.

We are not their parents! Meskipun kita orangtua mereka sekalipun belum tentu bisa mengubah mereka. Jadi kalau nemu yang seperti itu mendingan jauh-jauh aja sebelum gue sendiri yang dituduh ini itu, diposisikan ke dalam kategori yang gak gue inginkan untuk kemudian dihina dina hanya karena gue ternyata gak seperti fantasi mereka.

Belom lagi rival yang jeles dan menjadikan gue kambing item setiap saat. Darimana gue tahu itu? Gue tahu itu dari apa yang gue rasakan setiap kali berinteraksi. Gue berniat baik, tapi ujung-ujungnya gue difitnah. Gue dituduh ini itu yang seharusnya dia tahu kenapa gue bisa seperti itu. Sick, ya know.

Akhirnya gue memutuskan untuk blokir mereka semua dari semua sosmed, termasuk whatsapp. Aaand … I regret that I do that now. Gue sudah diwarning oleh orang-orang di sekitar gue, mereka sudah suruh gue blokir tuh orang sebelum nasi jadi bubur. Tapi gue memilih untuk berteman, karena gue percaya dia orang baik, satu dua tahun lagi dia akan belajar dan akhirnya kita bisa berteman secara apa adanya. Tapi ternyata gue salah. Ternyata selama menunggu itu, dia akan mencipratkan dunia dia ke gue. Dunia dia itu adalah dunia yang penuh dengan adu domba dan perbandingan.

Kalau seseorang gak berniat mengadu domba, tidak akan ada yang berantem demi dia. Kalau seseorang gak berniat membanding-bandingkan, tidak akan ada yang merasa lebih inferior atau lebih superior dari yang lain.

Dia gak nyadar kalau …

Gue bisa bandingin dia dengan orang-orang yang gue taksir. Gue bisa ngerendahin dia dengan nyebutin alasan kenapa gue gak demen ma dia tapi demen sama orang-orang lain yang gak usaha aja bisa bikin hati gue klepek-klepek. Tapi gue gak lakuin itu karena gue punya hati! Gue tahu dibanding-bandingin itu lebih nyakitin daripada dikritik pedas!

Ya ampun…. grrrr!!

Semua bukti sudah ada, dia aja yang terlalu buta untuk nyadar diri, ehhh malah nuduh gue yang terlalu banyak mikir. Sekalipun gue terlalu banyak mikir, gue sebodo amat lah. Yang penting gue punya alesan kenapa gue berpikir seperti itu. Sementara dia??? Ahhh udahlah. Sudah cukup orang aneh dalam hidup gue, gak usah ditambah orang gila lagi. Pergilah kalian jauh-jauh dari hidup gue, jangan berani balik-balik lagi!

Gue gak akan berteman dengan orang yang mentalnya childish kayak gitu lagi. I swear to myself!

Terserah lu mau nuduh gue ga bisa dengerin orang lain, wong kenyataanya gue bisa dengerin orang lain. Asal masuk akal pasti gue dengerin kok. Kalau lu ga bisa gue dengerin, berarti masih ada yang gak masuk akal tuh dari lu! Introspeksi diri sono! Jangan bisanya nyuruh gue doang yang introspeksi trus muter balikin fakta gue yang kayak gitu! Dasar manusia gak tahu malu!

Ah sudahlah. Butek kepala ini gak tau mau curhat ke mana… moga-moga gue bisa mendeteksi orang-orang macem itu lagi ke depannya jadi bisa lebih cepet antisipasi. Gue cuma pingin hidup damai tanpa ada fans K-drama atau orang narsis yang jealousan ke rival yang jelas-jelas ogah bersaing! Pergi lo semua dari hidup gue!

Dan kalau lo berdua atau bertiga atau berempat, whatever… berani nongol di comment … gue blokir biar lo ilang selamanya dari pandangan gue! Dasar bocah!!

Advertisements