Sejujurnya, gue takut dengan masa depan. Usia udah segini tapi masih belum stabil. Belum dapet pekerjaan tetap, belum ada orang yang percaya gue bisa melakukan sesuatu dengan beres. Belum ada hobi yang menghasilkan uang. Gue belum hidup layak, padahal teman-teman dan saudara-saudara gue udah sukses semuanya.

Setiap kali mereka upload di instagram atau facebook tentang kehidupan mereka, dimana mereka merayakan tahun baru di villa  atau resort mewah, gue jadi merasa terintimidasi karena gue hanya merayakan tahun baru main 7-up di Bobba House bersama adik. Pada waktu mereka upload foto-foto anak mereka yang lucu, aku mengupload foto-foto anak anjing yang kupelihara. Dari situ terciptalah kesombongan yang muncul dari dalam kepala sendiri. Kepalaku menerjemahkan perbandingan-perbandingan itu sebagai bentuk kesombongan mereka terhadapku.

Tapi kalau mau dipikir, siapa sih yang mau punya karyawan ADHD? Gue tahu pasti banyak yang menyangkal pernyataan ini, tapi gue akan tetap mengatakannya; “dunia ini tidak didesain untuk bersahabat dengan orang ADHD, apalagi yang didiagnosa di usia 29.”

Usia 29 gue baru tau kalau gue ADHD!

Bokap gue bilang gini : “coba kamu ketahuannya waktu masih kecil, mungkin semua ini bisa lebih cepat ditangani.”

O really? Dari usia 13 tahun gue sudah tahu ada yang salah dengan gue dan gue minta ke dokter. Tapi gue dibawa ke dokter umum. Selama SMA, gue ngotot pingin ke psikiater, tapi gue cuma dikasih psikotest. Sepanjang masa kuliah yang berakhir kandas itu gue masih ingin ke psikiater karena gue tau kalau gue beda dari yang lain. Apa yang bagi orang lain ga ada masalah, ternyata jadi masalah besar buat gue. Kenapa orang lain sebegitu gampangnya menyerap pelajaran tapi gue nggak?! Padahal psikotes mengatakan kalau kecerdasan gue ada di atas rata-rata (sekalipun bukan istimewa). Bahkan semasa menganggur gue mencoba pendekatan lembut agar gue dibawa ke psikiater, tapi bokap dengan entengnya bilang,  “semua itu tergantung mindset, kamu harus percaya bahwa kamu baik-baik saja.”

Hei, bokap! Lu ADHD, tapi lihat hidup lu sekarang. Apakah dengan percaya bahwa kamu baik-baik saja, lantas ADHD itu hilang? Apa dengan percaya bahwa ga ada kebakaran saat ini juga bisa langsung memadamkan api yang sedang membakar rumah?? Memang semua tergantung mindset, tapi mindset ga bisa mengubah apa yang sedang terjadi. Mindset hanya mengubah cara pandang, dunia dalam diri, sangkut pautnya dengan perspektif, bukan realita!

Kalau kita merasa minder karena melihat teman makin sukses, apa dengan mindset teman itu jadi miskin dan kita yang jadi kaya? Mindset hanya mengubah cara pandang kita, bukan situasi! Ya, memang kadang mindset juga bisa mengubah situasi, tapi itu berhubungan dengan cara pandang juga. Contohnya:  bila kita terjebak dalam ruangan yang sedang kebakaran, kita panik dan percaya bahwa kita akan mati, maka kita mati. Tapi bila kita tidak panik dan percaya semua bisa diatasi, maka kita akan bisa mengatasinya.

Itu fungsi mindset, untuk melihat sesuatu dari sudut pandang lain. ADHD tidak akan hilang hanya dengan mengabaikannya saja! Kita harus realistis, bukan jadi ignorant yang tidak tahu apa-apa tapi mulutnya besar sekali. Justru dengan mengetahui bahwa aku punya ADHD, aku bisa tahu bahwa ternyata aku ini memang impulsif secara lahiriah. Memang aku lebih tidak bisa fokus dibandingkan orang lainnya. Memang aku cenderung menyebarkan perhatian ke mana-mana, sehingga orang lain merasa tidak didengarkan. Memang itu yang menjadi alamiahku. Sekarang setelah menyadari semua itu, tinggal aku harus mengontrol pola makan agar otak tidak kekurangan nutrisi dan memperparah perilaku. Tinggal aku meningkatkan kepekaan diri  dan berdisiplin untuk fokus saat mendengarkan orang bicara, saat sedang mengerjakan sesuatu. Begitu, kan?

Itu sebabnya dibandingkan pekerjaan di kantoran dan sebagainya, gue lebih memilih di pet shop. Karena hewan gak ngerti ADHD, hewan ga peduli itu, malah. Hewan cuma peduli apa gue baik atau nggak ke mereka.

Tapi, kalau gue mengabaikan orang-orang di sekitar gue yang sudah pada sukses semua itu, dan melihat ke dalam diri sendiri. Sebenarnya gue sudah lompat jauh sekali dari tahun-tahun sebelumnya. Dulu gue ga paham, apa yang salah dari diri gue, sekarang gue ngerti ternyata cara kerja otak gue berbeda dari orang lain pada umumnya. Dulu gue gak ngerti bahwa respek dan rasa percaya itu basic dari segala macam bentuk hubungan yang baik. Sedih juga sebenarnya, mengetahui hal-hal dasar yang orang normal sudah belajar sejak kecil itu harus gue pelajari di usia seperempat abad lebih ini. Tapi itu bukan salah gue, bukan karena gue males atau ga mau tahu. Semua itu karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan gue untuk memahami itu semua. Bisa dibilang, secara status orangtua gue masih hidup dan bisa gue lihat setiap hari. Tapi secara emosional, gue yatim piatu. Gue harus mempelajari semuanya seorang diri. Gak hanya gue, tapi adik-adik gue juga merasa seperti itu. Kita hilang dan menemukan diri sendiri di usia yang tidak remaja lagi. Makanya, bagi mereka ini hal sepele, tapi bagi kami, ini perkara penting dan berharga.

Tahun 2017 ini, gue berharap bahwa hidup gue sudah memasuki kestabilan finansial. Gue berharap pekerjaan yang sekarang ini bisa membantu gue untuk mensupport kehidupan sebagai komikus.

 

Advertisements