Rasa-rasanya Indonesia ini negara yang sangat tidak ramah ADHD. Pengetahuan orang-orang mengenai kelainan psikologis ini benar-benar dangkal. Saya sangat menyayangkan hal ini, karena ADHD merupakan sesuatu yang serius, seperti kelainan, tapi bukan berarti sakit jiwa. Ada sesuatu yang berbeda dari cara kerja otak orang ADHD yang membuat mereka tidak bisa menjadi “senormal” orang pada umumnya.

Pagi itu waktu membuat kopi dengan mesin pemanas listrik, mendadak pemanas itu meledak. Ternyata saya lupa untuk mencabut kabel dari sumbernya sehingga mengakibatkan overheat dengan cepat, dan akhirnya meledak. Pada saat itu ada teman saya yang usianya jauh lebih tua daripada saya. Dia mengatakan bahwa hal itu terjadi karena saya banyak pikiran.

Sebenarnya diagnosa “banyak pikiran” tidak terlalu salah. ADHD bukannya kurang perhatian, tapi perhatian mereka terlalu banyak dan kemana-mana, sehingga ujung-ujungnya jadi “banyak pikiran”. Walau pun diagnosanya nyaris tepat, tapi sebutannya kurang. Teman saya itu mengatakan bahwa saya seperti orang stres, terlalu banyak pikiran. Akibatnya kurang konsentrasi dan fokus. Tidak salah, karena orang ADHD yang perhatiannya ke mana-mana ini juga akhirnya kurang konsentrasi dan fokus. Sama saja.

Kemudian setelah saya menjelaskan bahwa saya memiliki “penyakit” psikologi yang disebut ADHD, dia menganjurkan agar saya tidak percaya dokter. Alasannya, karena diagnosa dokter yang satu dengan yang lainnya pasti berbeda.

“Yah, namanya juga manusia.”

Saya kembali teringat pada teman yang lainnya yang menganggap saya terlalu depresi sehingga menjadi pelupa, susah konsentrasi dan fokus, akibatnya jadi impulsif dan temperamental. Padahal kalau dirunutkan masalahnya, awal dari depresi yang saya alami adalah karena dunia ini tidak cocok dengan orang ADHD, terutama hidup di Indonesia. Mungkin di luar negeri individualitas sudah dihargai, menjadi seniman tidak sesulit dulu. Tapi di Indonesia orang masih terpaku pada profesi dokter dan admin.

Ya, teman saya benar, masalah saya adalah masalah umum orang ADHD; pelupa, susah konsentrasi, susah fokus, impulsif dan temperamental. Tapi baru saja saya hendak menjelaskan secara neurologi, dia sudah buru-buru menimpali bahwa saya harus banyak berdoa dan beribadah. Kalau Tuhan mau menyembuhkan ADHD, kenapa dia memberikan itu kepadaku saat lahir dulu? Kurasa Tuhan memberikan ADHD ini sebagai bentuk tantangan dalam hidup, bukan sesuatu untuk disingkirkan tapi dikendalikan.

Tanggapan teman lainnya mengenai ADHD belum selesai sampai di sana. Ada lagi seorang teman yang sangat suka menggunakan kata “mind set”. Ya, saya sendiri percaya akan kekuatan mind set. Tapi masalahnya, teman ini mirip dengan ayahku dulu sebelum dia paham apa itu ADHD (dan menyadari bahwa dia juga mengindapnya). Teman ini beranggapan bahwa semua orang itu baik-baik saja. Dia percaya penyakit psikologi itu tidak ada, hanya masalah mind set. Dengan kata lain, andai dunia ini terbalik, dimana penyakit fisik dianggap seperti penyakit psikologi; keberadaannya dianggap “tidak nyata” karena “tidak terlihat”, maka dia akan menyuruh orang yang tidak punya kaki untuk ikut lomba lari di medan pelari normal yang semua pesertanya punya kaki sehat. Kemudian ketika si pelari tak berkaki ini kalah, dia akan mengatakan bahwa ini kesalahan mind setnya yang percaya bahwa dia tidak punya kaki sehingga tidak bisa berlari.

Oh man…. aku harap kelak ada yang bisa kulakukan untuk membuat orang-orang sadar apa itu ADHD, bahwa itu adalah kenyataan, bahwa itu adalah sesuatu yang mematikan yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam narkotika dan candu, sesuatu yang membuat seseorang menjadi depresi karena terus menerus gagal di dunia yang tak ramah ADHD ini.

Jangan salah paham, aku bukannya berharap orang akan mengalah pada orang-orang ADHD, tapi aku hanya ingin orang paham apa itu ADHD. Karena jujur saja, susah sekali mencari pekerjaan apabila ADHD sudah sangat parah. Aku benar-benar mengecam dan menyesali ini karena hidupku dihancurkan oleh penyakit ini. Untuk bangkit kembali susah sekali, tidak ada yang mau mempekerjakan karyawan yang selalu telat, pelupa, impulsif, hiperaktif, susah konsentrasi, yang seringkali teledor sekalipun sudah membuat buku catatan dan reminder. Kalau boleh memilihpun aku lebih suka untuk terlahir normal tanpa ADHD.

Advertisements