Pada saat usia saya 1 minggu, saya dibawa oleh kedua orangtua saya ke gereja kemudian dibaptis sebagai seorang kristen. Sejak itu, saya hidup di dunia kristen, ke sekolah minggu setiap hari minggu, menyanyi lagu-lagu rohani, membaca Alkitab, belajar mengenal Yesus Kristus. Kristen telah menjadi duniaku sejak sebelum aku tahu bedanya benar dan salah, pantas tidak pantas, dan untuk apa aku dilahirkan. Pada saat yang sama, manusia percaya bahwa kita semua terlahir bebas.

Aku seorang kristen dan sekalipun sekarang aku tidak mengikuti ritus keagamaan yang kini kuanut, katholik, aku tetap percaya Yesus. Aku tidak bisa menyangkal bahwa Yesus itu tidak ada, karena itu fondasi dari realitaku: eksistensi Yesus. Entah bagaimana bentuknya, bagiku Yesus sungguh ada.

Pertanyaannya, andai orangtuaku bukan kristen, apakah aku masih akan percaya bahwa Yesus itu sungguh ada?

Inilah salah satu alasanku untuk menjauhi dunia keagamaan. Beberapa agama mengharuskan umatnya menelan bulat-bulat realita yang mereka percayai. Kalau agama bilang Bumi itu datar, maka itulah realita yang harus kita percayai, sekalipun kita diseret masuk roket dan dibawa terbang ke luar angkasa melihat betapa bulatnya Bumi ini, kita harus tetap percaya bahwa Bumi itu datar.

Aku menyebutnya “ego agama”. Kondisi dimana seseorang benar-benar terbutakan oleh agama. Mengedepankan agama di atas segala-galanya, termasuk hati nurani. Loh? bukankah rumusnya; agama itu baik, beragama membuat orang jahat kembali ke jalan yang benar?

Apa itu “jalan yang benar”? Apakah “benar” yang dimaksud adalah “benar” dalam artian … Bumi itu datar, bukan bulat karena agama bilang begitu? atau “benar” dalam artian kita hidup harus berbuat BAIK?

Kebenaran yang kupegang adalah kebenaran yang menjawab alasan kita hidup di dunia ini. Sejak dahulu manusia selalu memikirkan satu pertanyaan renungan seumur hidupnya; untuk apa aku lahir? kenapa semua ini ada daripada tidak ada? Kenapa kita ada bila akhirnya kita akan tiada juga?

Apakah semesta ini hanya ingin bersenang-senang dalam kebahagiaan, mengalami hidup dalam jangka waktu sesingkat meteor jatuh melalui manusia? Ataukah karena ada Tuhan yang sedang ingin dipuji-puji oleh ciptaannya?

Tuhan yang aku percayai–atau setidaknya menurut apa yang kupercayai–ingin aku hidup bukan untuk meminta pujian dariku. Dia mencintai aku, untuk itulah aku ada. Aku adalah karyanya, apakah aku akan menjadi salah satu masterpiecenya? Melalui aku, dia mewartakan cintaNya pada dunia. Mungkin kita ada demi cinta, demi kasih. Mungkin itu sebabnya manusia kaya tak ada artinya bila dia tidak bisa melakukan sesuatu yang dilakukan cinta; berbagi. Mungkin itu sebabnya kita terharu saat menyaksikan kebajikan, dan berduka saat melihat ketidak-adilan. Karena manusia terlahir baik, tersenyum saat melihat kebaikan, menangis saat melihat keegoisan.

Dari sana, aku percaya bahwa hidup ini tak ada artinya bila kita tidak berbuat baik bagi orang lain. Tiliklah kisah “Robohnya Surau Kami”, yang maknanya kini sedang dibolak-balikkan oleh beberapa orang aneh. Kita seakan begitu terbutakan agama sehingga kita percaya bahwa tanpa agama kita akan hancur, alasannya karena agama adalah sumber kebaikan. Tapi kita lebih membela orang jahat asal beragama daripada orang baik yang tidak beragama. Ironis, bukan? Apa yang Tuhan pikirkan bila seseorang menjahati orang lain demi diriNya? Apakah Tuhan yang penuh kasih akan bangga?

Kita terlahir baik, jangan sampai kita mengabaikan kebaikan karena hal-hal yang terlalu kita cintai. Ingatlah bahwa cinta buta itu tidak baik.

Advertisements