Search

Sesuatu Di Balik Langit

Daripada bengong mengawang ke langit-langit, mending nulis aja …

Catatan Tahun Baru

Sejujurnya, gue takut dengan masa depan. Usia udah segini tapi masih belum stabil. Belum dapet pekerjaan tetap, belum ada orang yang percaya gue bisa melakukan sesuatu dengan beres. Belum ada hobi yang menghasilkan uang. Gue belum hidup layak, padahal teman-teman dan saudara-saudara gue udah sukses semuanya.

Setiap kali mereka upload di instagram atau facebook tentang kehidupan mereka, dimana mereka merayakan tahun baru di villa  atau resort mewah, gue jadi merasa terintimidasi karena gue hanya merayakan tahun baru main 7-up di Bobba House bersama adik. Pada waktu mereka upload foto-foto anak mereka yang lucu, aku mengupload foto-foto anak anjing yang kupelihara. Dari situ terciptalah kesombongan yang muncul dari dalam kepala sendiri. Kepalaku menerjemahkan perbandingan-perbandingan itu sebagai bentuk kesombongan mereka terhadapku.

Tapi kalau mau dipikir, siapa sih yang mau punya karyawan ADHD? Gue tahu pasti banyak yang menyangkal pernyataan ini, tapi gue akan tetap mengatakannya; “dunia ini tidak didesain untuk bersahabat dengan orang ADHD, apalagi yang didiagnosa di usia 29.”

Usia 29 gue baru tau kalau gue ADHD!

Bokap gue bilang gini : “coba kamu ketahuannya waktu masih kecil, mungkin semua ini bisa lebih cepat ditangani.”

O really? Dari usia 13 tahun gue sudah tahu ada yang salah dengan gue dan gue minta ke dokter. Tapi gue dibawa ke dokter umum. Selama SMA, gue ngotot pingin ke psikiater, tapi gue cuma dikasih psikotest. Sepanjang masa kuliah yang berakhir kandas itu gue masih ingin ke psikiater karena gue tau kalau gue beda dari yang lain. Apa yang bagi orang lain ga ada masalah, ternyata jadi masalah besar buat gue. Kenapa orang lain sebegitu gampangnya menyerap pelajaran tapi gue nggak?! Padahal psikotes mengatakan kalau kecerdasan gue ada di atas rata-rata (sekalipun bukan istimewa). Bahkan semasa menganggur gue mencoba pendekatan lembut agar gue dibawa ke psikiater, tapi bokap dengan entengnya bilang,  “semua itu tergantung mindset, kamu harus percaya bahwa kamu baik-baik saja.”

Hei, bokap! Lu ADHD, tapi lihat hidup lu sekarang. Apakah dengan percaya bahwa kamu baik-baik saja, lantas ADHD itu hilang? Apa dengan percaya bahwa ga ada kebakaran saat ini juga bisa langsung memadamkan api yang sedang membakar rumah?? Memang semua tergantung mindset, tapi mindset ga bisa mengubah apa yang sedang terjadi. Mindset hanya mengubah cara pandang, dunia dalam diri, sangkut pautnya dengan perspektif, bukan realita!

Kalau kita merasa minder karena melihat teman makin sukses, apa dengan mindset teman itu jadi miskin dan kita yang jadi kaya? Mindset hanya mengubah cara pandang kita, bukan situasi! Ya, memang kadang mindset juga bisa mengubah situasi, tapi itu berhubungan dengan cara pandang juga. Contohnya:  bila kita terjebak dalam ruangan yang sedang kebakaran, kita panik dan percaya bahwa kita akan mati, maka kita mati. Tapi bila kita tidak panik dan percaya semua bisa diatasi, maka kita akan bisa mengatasinya.

Itu fungsi mindset, untuk melihat sesuatu dari sudut pandang lain. ADHD tidak akan hilang hanya dengan mengabaikannya saja! Kita harus realistis, bukan jadi ignorant yang tidak tahu apa-apa tapi mulutnya besar sekali. Justru dengan mengetahui bahwa aku punya ADHD, aku bisa tahu bahwa ternyata aku ini memang impulsif secara lahiriah. Memang aku lebih tidak bisa fokus dibandingkan orang lainnya. Memang aku cenderung menyebarkan perhatian ke mana-mana, sehingga orang lain merasa tidak didengarkan. Memang itu yang menjadi alamiahku. Sekarang setelah menyadari semua itu, tinggal aku harus mengontrol pola makan agar otak tidak kekurangan nutrisi dan memperparah perilaku. Tinggal aku meningkatkan kepekaan diri  dan berdisiplin untuk fokus saat mendengarkan orang bicara, saat sedang mengerjakan sesuatu. Begitu, kan?

Itu sebabnya dibandingkan pekerjaan di kantoran dan sebagainya, gue lebih memilih di pet shop. Karena hewan gak ngerti ADHD, hewan ga peduli itu, malah. Hewan cuma peduli apa gue baik atau nggak ke mereka.

Tapi, kalau gue mengabaikan orang-orang di sekitar gue yang sudah pada sukses semua itu, dan melihat ke dalam diri sendiri. Sebenarnya gue sudah lompat jauh sekali dari tahun-tahun sebelumnya. Dulu gue ga paham, apa yang salah dari diri gue, sekarang gue ngerti ternyata cara kerja otak gue berbeda dari orang lain pada umumnya. Dulu gue gak ngerti bahwa respek dan rasa percaya itu basic dari segala macam bentuk hubungan yang baik. Sedih juga sebenarnya, mengetahui hal-hal dasar yang orang normal sudah belajar sejak kecil itu harus gue pelajari di usia seperempat abad lebih ini. Tapi itu bukan salah gue, bukan karena gue males atau ga mau tahu. Semua itu karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan gue untuk memahami itu semua. Bisa dibilang, secara status orangtua gue masih hidup dan bisa gue lihat setiap hari. Tapi secara emosional, gue yatim piatu. Gue harus mempelajari semuanya seorang diri. Gak hanya gue, tapi adik-adik gue juga merasa seperti itu. Kita hilang dan menemukan diri sendiri di usia yang tidak remaja lagi. Makanya, bagi mereka ini hal sepele, tapi bagi kami, ini perkara penting dan berharga.

Tahun 2017 ini, gue berharap bahwa hidup gue sudah memasuki kestabilan finansial. Gue berharap pekerjaan yang sekarang ini bisa membantu gue untuk mensupport kehidupan sebagai komikus.

 

Harbolnas Bullshit

Why bullshit?

  1. Harga malah lebih mahal

Sebelum Harbolnas, gue ngincer stylus pen untuk graphic tablet Genius i405x, harganya 255rb. Tapi setelah Harbolnas, harganya jadi 325rb. Jadi kesimpulannya harbolnas ini adalah kesempatan para pedagang untuk mengincar pembeli yang ga tahu harga yang dengan polosnya berasumsi bahwa semua harga di waktu Harbolnas jadi lebih murah.

2. Diskon bullshit

Satu lagi hal paling bullshit waktu Harbolnas adalah diskon! Di iklan televisi bilangnya harga sakit jiwa gara-gara udah diskon, bisa nego pula. Tapi kenyataannya sebelum didiskon tuh harga dinaikin dulu jadi malah jatohnya lebih mahal waktu berdiskon daripada sebelum berdiskon!

3. Nego bullshit

Misalnya ada barang seharga 1.000.000, dinego cuma berkurang 25.000 paling mentok. Kalau kita nawar jauh lebih rendah malah ga dapet pengurangan harga. So kesimpulannya, nego itu bullshit, cuma buat nutupin ongkos kirim aja.

***

Pengalaman belanja di even Harbolnas ini benar-benar bullshit. Gue berniat untuk beli Wacom Intuos, ada yang jual murah cuma 950.000 tapi dinego2 cuma dapet 923.000! Udah gitu yang jualan cuma konfirmasi doang, ga ada tindakan. Padahal dia sudah sedia fitur kirim pakai Go-Send, yang bisa nyampai dalam hitungan jam saja. Kenyataannya, waktu dia konfirmasi jam 7 malam, gue tungguin sampai jam 1 pagi ga dateng-dateng! Padahal kalau dia harus bungkus dulu, lalu manggil gojek, paling mentok satu jam juga kelar. Gojek jam 8 masih ada, men! Jam 9 udah nyampe ke tangan gue harusnya.

Jadi, overall, I’m pissed of this Harbolnas bullshit! Buat apa event gila-gilaan tapi penjualnya pada ga niat gini?!?! Fantasi doang jadinya! sh*t!

Dari Motivator Sampai Bocah Ababil Bleguk

Sebagai seorang penulis, hal yang paling gue inginkan adalah tulisan gue dapat menginspirasi orang banyak. Suatu hari gue memutuskan untuk menulis tentang dunia tulis menulis dan apa saja yang gue pelajari dari sana. Semua itu gue tuliskan di dalam wattpad.com dengan judul “So, you wanna be a writer?” dalam bahasa Indonesia.

Gue cukup senang karena banyak orang yang datang untuk membaca meninggalkan pesan bahwa mereka terinspirasi dari tulisan-tulisanku di sana. Senang, karena itu adalah sukses buatku. Dengan kata lain, gue jadi motivator untuk dunia tulis menulis dong? Hehe …

Menilik dari kasus yang sedang hangat yang menimpa seorang motivator kondang made in Indonesia (James Gwee made in Singapore, bro!), gue jadi sedikit bercermin. Apakah orang-orang yang terinspirasi dengan tulisan gue itu, bakal kecewa kalau tahu siapa gue aslinya? Kalau mereka tahu sejelek-jeleknya gue, apa mereka bakal kecewa? Lebih dari itu, apa semua inspirasi yang gue berikan untuk mereka akan jadi sia-sia?

Pernah ada seseorang yang datang dan kenalan gitu, dia bilang gue luar biasa, awesum, dsb. Tapi gue pikir itu semua berlebihan. Jadi gue kasih warning duluan, “gue gak sesempurna yang lu pikir.”

Tapi berhubung dia cukup baik ke gue, jadi gue tetap memelihara hubungan. Ehh… beneran. Belakangan begitu dia tahu sifat-sifat buruk gue, dia langsung kecewa dan banding-bandingin gue ke orang-orang lain. Udah gitu dibandinginnya dalam situasi yang gak gue inginkan pula! Gue sama sekali ga ada niat untuk jadi pacar dia, kenapa dia bandingin gue dengan deretan orang-orang yang punya hubungan romantik dengan dia? Udah gitu kata-kata yang dia pakai tersusun sedemikian rupa biar gue merasa gue paling rendah, paling ga penting.

Sebenernya salah gue juga sih. Dari awal gue sudah tahu nih orang gak memandang gue apa adanya. Dia mencintai fantasi dia tentang gue, bukan gue yang sebenarnya. Dilengkapi dengan pikiran yang imajinatif dari manga dan drama korea, selama gue bergaul dengan dia, gue merasa jadi salah satu love interest tokoh utama yang sok cool tapi mau (BEOUHHH!!) yang akhirnya didepak oleh si tokoh utama gara-gara dia menyadari cinta sejatinya adalah si looser yang selama ini banyak berkorban demi dia. Udah gitu gue juga yang dikatain drowned in my own imagination!

Dari pengalaman ini, gue belajar… sudah cukup deh. Kalau seseorang terlalu berlebihan memandang gue, kalau seseorang melihat gue sebagai wujud dari fantasi dia… mending cut aja dari awal. Kita gak akan pernah bisa mengubah siapapun. Granted, dulu gue berharap semua orang jadi lebih sedikit pemurah dengan membuka hati untuk memberi kesempatan gue untuk berubah … tapi sekarang gue sadar. Leave it or take it merupakan strategi terbaik dalam bersosial.

We are not their parents! Meskipun kita orangtua mereka sekalipun belum tentu bisa mengubah mereka. Jadi kalau nemu yang seperti itu mendingan jauh-jauh aja sebelum gue sendiri yang dituduh ini itu, diposisikan ke dalam kategori yang gak gue inginkan untuk kemudian dihina dina hanya karena gue ternyata gak seperti fantasi mereka.

Belom lagi rival yang jeles dan menjadikan gue kambing item setiap saat. Darimana gue tahu itu? Gue tahu itu dari apa yang gue rasakan setiap kali berinteraksi. Gue berniat baik, tapi ujung-ujungnya gue difitnah. Gue dituduh ini itu yang seharusnya dia tahu kenapa gue bisa seperti itu. Sick, ya know.

Akhirnya gue memutuskan untuk blokir mereka semua dari semua sosmed, termasuk whatsapp. Aaand … I regret that I do that now. Gue sudah diwarning oleh orang-orang di sekitar gue, mereka sudah suruh gue blokir tuh orang sebelum nasi jadi bubur. Tapi gue memilih untuk berteman, karena gue percaya dia orang baik, satu dua tahun lagi dia akan belajar dan akhirnya kita bisa berteman secara apa adanya. Tapi ternyata gue salah. Ternyata selama menunggu itu, dia akan mencipratkan dunia dia ke gue. Dunia dia itu adalah dunia yang penuh dengan adu domba dan perbandingan.

Kalau seseorang gak berniat mengadu domba, tidak akan ada yang berantem demi dia. Kalau seseorang gak berniat membanding-bandingkan, tidak akan ada yang merasa lebih inferior atau lebih superior dari yang lain.

Dia gak nyadar kalau …

Gue bisa bandingin dia dengan orang-orang yang gue taksir. Gue bisa ngerendahin dia dengan nyebutin alasan kenapa gue gak demen ma dia tapi demen sama orang-orang lain yang gak usaha aja bisa bikin hati gue klepek-klepek. Tapi gue gak lakuin itu karena gue punya hati! Gue tahu dibanding-bandingin itu lebih nyakitin daripada dikritik pedas!

Ya ampun…. grrrr!!

Semua bukti sudah ada, dia aja yang terlalu buta untuk nyadar diri, ehhh malah nuduh gue yang terlalu banyak mikir. Sekalipun gue terlalu banyak mikir, gue sebodo amat lah. Yang penting gue punya alesan kenapa gue berpikir seperti itu. Sementara dia??? Ahhh udahlah. Sudah cukup orang aneh dalam hidup gue, gak usah ditambah orang gila lagi. Pergilah kalian jauh-jauh dari hidup gue, jangan berani balik-balik lagi!

Gue gak akan berteman dengan orang yang mentalnya childish kayak gitu lagi. I swear to myself!

Terserah lu mau nuduh gue ga bisa dengerin orang lain, wong kenyataanya gue bisa dengerin orang lain. Asal masuk akal pasti gue dengerin kok. Kalau lu ga bisa gue dengerin, berarti masih ada yang gak masuk akal tuh dari lu! Introspeksi diri sono! Jangan bisanya nyuruh gue doang yang introspeksi trus muter balikin fakta gue yang kayak gitu! Dasar manusia gak tahu malu!

Ah sudahlah. Butek kepala ini gak tau mau curhat ke mana… moga-moga gue bisa mendeteksi orang-orang macem itu lagi ke depannya jadi bisa lebih cepet antisipasi. Gue cuma pingin hidup damai tanpa ada fans K-drama atau orang narsis yang jealousan ke rival yang jelas-jelas ogah bersaing! Pergi lo semua dari hidup gue!

Dan kalau lo berdua atau bertiga atau berempat, whatever… berani nongol di comment … gue blokir biar lo ilang selamanya dari pandangan gue! Dasar bocah!!

Si Bego

Gw : “Eh, barang lu kebawa. tapi gue ga bisa kirim ke sana, gue lagi ga ada duit. kita ketemuan aja ya di deket tempat kerja gw”

Bego : “Elu yang maling barang kita tapi kok nyuruh kita dateng ke tempat lu?”

Gw : “gw ga bilang gw ngambil, gw jg ga nyuruh lu dateng ke tempat gue. gue nyari jalan tengah.”

Bego : “kalo gitu, kembalikan ke alamat saya. terima kasih.”

Gw : “gw ga ada duit. ada notif facebook bilang lu mau ke daerah tempat gw kerja, bisa gak kita ketemuan di sana?”

Bego : “Boooosss nih ada orang maling barang kita ga mau balikin!!” (mampus lu! turutin perintah gue atau lu maling beneran!)

Gw : “Logika lo ga dipake ya?”

Move On from Suicidial Thoughts

Aku pernah berada di sana, dibawah tiang gantungan. Berdiri menengadah, memandangi serat-serat tambang. Mempertanyakan untuk apa kita semua hadir di dunia ini dan hidup?

Tapi karena terlalu pengecut untuk menggantung diri, aku mengambil rokok dan menyulutnya. Sambil membakar paru-paruku sedikit demi sedikit, aku memandangi asap-asap putih di depan mata…itu nyawaku yang terbakar perlahan.

Kulakukan setiap hari, berharap suatu hari aku sesak nafas dan mati.

Tapi kemudian … roda berputar.
kegelapan perlahan berlalu.
Jawaban yang kutunggu akhirnya tiba.

Andai aku tidak takut sakit saat itu, mungkin aku sudah mati tanpa pernah mengetahui jawaban tersebut.

 


 

“masih banyak yg jauh lebih menderita daripada loe!!”

the purpose of sharing suffering is not to expose one’s pain… why would someone be proud that they are in pain???LMAO!!

we just know something is wrong, we get bullied for it, but we dont know what is it. the reason why we share our pain is to FIND OUT WHAT is actually happening inside us, we tell you because we need your help. its just sometimes some people dont know how to listen and take things personally. they forgot their purpose telling others about that pain.

i’m not a bipolar, but experiences the rest ALL AT ONCE. but i came out alive and find myown way after some people says “masih banyak yg jauh lebih menderita daripada loe!!” … bukan karena kata2 itu menginspirasi. tapi karena kata2 itu menyadarkanku bahwa kita ini sesungguhnya sendirian. seperti kata Plato, persahabatan ada karena segitiga. antara kamu dan aku ada sebuah benefit. itu sebabnya … sejujur-jujurnya …. kira ini sendirian dan disalah pahami.

 

Apa Yang Terjadi Saat Seseorang Menilai?

pexels-photo-70292

Manusia punya logika, itu sebabnya manusia punya kecenderungan untuk mengklasifikasikan apapun yang ada di sekitarnya. Manusia juga lebih nyaman dengan sesuatu yang bisa mereka jelaskan. Itu sebabnya manusia selalu berusaha untuk memahami sesuatu.

Sounds good? Tunggu dulu …

Pada saat seseorang memahami sesuatu, dia akan memahami hal tersebut sejauh pengetahuannya sendiri. Itu sebabnya orang sombong akan lebih mudah melihat sifat sombong dari orang lain.

Di sinilah letak bahaya dari penilaian. Menilai berarti memberi label, memberi klasifikasi. Misalnya, seseorang mengklasifikasikan si A dalam kelas “bodoh”. Kemudian si B dalam kelas “baik”. Bila seseorang sudah dikotak-kotakkan seperti itu, terlebih untuk jangka waktu yang lama, maka itu akan menjadi batasan. Biasanya sulit untuk mengubah pandangan setelah seseorang dikelaskan ke dalam kotak tertentu.

Sebagai contoh, si A yang bodoh itu ternyata menemukan rahasia alam semesta. Pintar sekali, bukan? Namun orang yang biasa menilainya bodoh itu tidak suka bila klasifikasi yang telah lama dia labelkan pada si A akhirnya berubah. Selama ini dia yakin bahwa dia lebih pintar dari si A, dia tidak terima bila terjadi sebaliknya. Itu sebabnya dia akan menyikapi prestasi A dengan kenegatifan. Dia akan menyebut temuan A itu sebagai cerita fiksi, atau terlalu banyak berimajinasi.

Orang tidak suka perubahan. Apalagi perubahan yang merugikan dirinya. Pada saat orang lain yang dinilainya lebih rendah itu ternyata mampu melampaui dia, mereka tidak siap menerimanya.

Inilah yang sesungguhnya terjadi saat seseorang sedang menilai sesuatu: dia mengerdilkan objek tersebut sekerdil standarnya sendiri.

Lucunya, kalau hal itu terlalu tinggi untuk dipahaminya, dia akan menyebutnya dalam kategori “others”, yaitu “gila” atau “aneh”.

Maka dari itu, pada saat anda menilai sesuatu, pastikan penilaian itu bersifat fleksibel.

Sebelum Anda Berkembang Biak …

pexels-photo-110573-largeSatu pertanyaan saya : Sudah siap membimbing manusia?

Biar saya tekankan pada dua hal dari pertanyaan itu. Pertama adalah “membimbing”. Kata ini berarti adalah mengarahkan, mengajari, memberi petunjuk. Mungkin dalam bayangan anda, saat menjadi orangtua, anda tidak hanya menjadi pelindung ataupun perawat. Anda juga menjadi seorang guru.

Guru, selama ini kita pahami sebatas “pahlawan tanpa tanda jasa”. Sosok guru menjadi seorang pahlawan, seorang yang memberi pengetahuan pada murid-muridnya; karena dia sudah jago di bidang itu.

Saat anda menjadi orangtua, anak anda masuk kelas kehidupan, dan anda guru utamanya. Guru originalnya. Apakah anda sudah jago mengenai hidup? Apakah anda sudah jago menghadapi beban hidup, dengan segenap aral rintangan, menghadapi orang lain dan beradaptasi mengenai perubahan zaman?

Saat ini anak anda masih kecil, anda tinggal mengajarinya pengetahuan yang sangat mudah. Sekadar bagaimana cara berjalan, cara berbicara, cara makan, dsb. Tapi seiring perkembangan usianya, dia akan menghadapi lebih banyak masalah. Saat dia beranjak remaja, masihkah dia mempercayai bimbingan anda? Apakah dia masih menganggap anda layak untuk menjadi gurunya? Ketika dia tertimpa masalah sulit dan meminta bantuan anda untuk mencari solusinya, apakah anda dapat tampil untuk membantunya?

Sebelum anda berhasil menguasai ilmu-ilmu kehidupan, anda tidak akan mampu membuat anak anda percaya bahwa anda pantas menjadi guru utamanya. Hal ini sangat penting, anda tidak mau anak anda berkeliaran tidak jelas mencari guru pengganti yang dia pilih sendiri, kan?

Hal kedua adalah “manusia”.

Apa itu manusia? Apa artinya menjadi manusia? Bagaimana cara memanusiakan manusia? Kenapa manusia perlu hadir di dunia ini?

Pertanyaan itu adalah dasar dari pengajaran anda dalam kelas kehidupan.

Bila anda memahami manusia sebagai orang lewat, untuk dimanfaatkan. Atau mungkin sebagai sumber duit untuk dikeruk, bisa jadi anda sedang membesarkan seorang psikopat yang tidak punya empati terhadap orang lain.

Bila anda tidak tahu apa artinya menjadi manusia, anak anda juga akan bingung harus berbuat apa dalam hidupnya. Pastinya menjadi manusia bukan sekadar hidup, makan, kerja, bersenang-senang, lalu tidur, kan? Bagi saya, masing-masing dari kita hadir di dunia ini demi sesuatu. Kehadiran setiap orang punya makna bagi yang lainnya.

Orang dekil di pinggir jalan itu, mungkin punya pengaruh besar terhadap orang kaya yang rumahnya lebih besar daripada anda. Dalam suatu waktu, perjalanan hidupnya dapat mengubah dunia. Siapa yang tahu? Toh, anak papi yang penakut dan malas itu ternyata menjadi Charles Darwin. Bocah penyakitan yang lemah itu gak taunya seorang Mozart! Perempuan buta, tuli, bisu, gak taunya Hellen Keller!

Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir bekerja. Salah bila seseorang menganggap bahwa manusia lain tidak ada artinya bila tidak memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri. Salah besar bila seseorang memberi perlakuan berbeda antara orang kaya dengan orang miskin! Nah, apa yang akan anda ajarkan pada anak anda mengenai manusia?

Hal ini berubungan dengan masa depannya. Karena pada dasarnya setiap orang ada untuk membawa misi bagi dunia. Tidak peduli apakah kehadirannya hanya untuk membahagiakan anak-istri, atau untuk memicu revolusi yang mengubah hidup orang banyak. Apakah anda sudah siap menghadapi impian anak-anak anda? Apakah anda sudah siap mendukungnya dan memastikan dia sampai di sana dengan selamat?

Atau anda memilih untuk melindungi anak anda, menjadi tamengnya dalam segala situasi agar dia selalu aman dan hidup selamat? Apakah anda merasa dia lebih baik menjadi seorang pengecut yang kuper tapi minim pengalaman, daripada dia banyak pengalaman tapi mati muda?

Satu nasihat saya … biarkan dia berlari dan tertawa, bersenang-senang dalam mengejar impiannya. Dia bukan anda. Dia adalah manusia lain seperti teman-teman anda, hanya saja dia lahir melalui anda.

Sudah siapkah anda menjadi guru kehidupan?

Resep Kentang Tumbuk Sederhana

potato-soup-237761_960_720

Kentang tumbuk cukup murah, bikinnya gampang tapi memakan waktu lama. Kalau kamu gak masalah dengan itu, ini ada resep pribadi ngebikin kentang tumbuk sederhana pengganjal perut saat gak mampu beli beras hehe …

Jadi biasanya gue beli 1 kg kentang, terakhir beli 1 kg masih 10rb. Perutku cukup puas menampung kentang segenggam, kira-kira 300gr. Jadi 10rb itu bisa dimakan untuk 3 porsi.

Bahan-bahan :

  1. Kentang 300gr kurang lebih
  2. Keju (sesuai selera)
  3. Garam (setengah sendok teh atau sesuai selera)
  4. margarin (rekomendasi gue adalah Blue Band)
  5. Susu (satu gelas aja)
  6. bawang putih (satu butir)
  7. telur

*salah satu alasan gue suka kentang tumbuk adalah karena dia cukup fleksibel. Kamu bisa pakai bahan bumbu apapun yang kamu mau sesuai selera. Misalnya suka cabai, bisa tambhkan cabe, tapi kalau gak ada cabe juga gak masalah. Begitu juga dengan lada, dsb.

Oke, kita mulai aja bikin kentang tumbuk ini.

  1. Rebus kentang dalam panci sampai dia lembek. selembek2nya (biasaya 20 menit) Sedikit tips, memotong kentang tipis-tipis bisa mempercepat proses dan menghemat gas. Tergantung selera, kamu boleh membiarkan kulitnya tetap ada di sana untuk dimakan (enak loh)
  2. Setelah kentang menjadi lembek, pisahkan dari air rebusannya, lalu tumbuk sampai halus. kalau gak punya pengocok telur, bisa pakai garpu dan sendok kok. gue sih lebih gampang pakai garpu.
  3. Campur dengan telur dan margarin
  4. masukkan juga bahan-bahan lain sesuai selera. kalau gue susu, keju dan garam aja udah cukup. Kalau kamu mau masukin bawang atau lada, silakan.
  5. aduk di api kecil, kalau kamu gak pakai susu, tambahin sedikit air biar dia encer. karena kalau gak ada airnya, ntar malah nempel di dinding panci. Aduk terus sampai rata, jangan berhenti ngaduk karena nanti nempel semua.
  6. Kalau sudah kluar gelembung-gelembung seperti air mendidih, berarti sudah matang.
  7. sajikan di atas piring, bisa tambahkan toping sesuai selera (kalau gue sih keju dan mayonaise cukup. tapi kalau mau tambah saus tomat juga silakan)

Porsi ini sanggup mengganjal perut gue sampai 5 jam. Selamat makan!

George Benson – Greatest Love of All

pexels-photo-large

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children laughter remind us how we used to be

Everybody searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone to fulfill my needs
A lonely place to be, so I learn to depend on me

[chorus]
I decided long ago, never to walk in anyone’s shadow
If I failed, if I succeed, at least I went as I believe
No matter what they take from me,
They can’t take away my dignity

Because the greatest love of all is happening to me
I found the greatest love of all inside of me
The greatest love of all is easy to achieve
Learning to love yourself is the greatest love of all

And if by chance that special place
That you’ve been dreaming of
Leads you to a lonely place
Find your strength in love

 

Translasi

Aku percaya anak-anak adalah masa depan
Bimbing mereka dengan sebaiknya dan biarkan mereka memilih
Tunjukkan segala keindahan yang ada dalam diri mereka
Berikan mereka rasa harga diri untuk mempermudahnya
Biarkan tawa anak-anak mengingatkan kita saat kita masih kecil dulu

Setiap orang mencari sosok pahlawan,
Setiap orang butuh figur teladan,
Aku tidak pernah menemukan seseorang untuk memenuhi kebutuhanku
Dunia ini adalah tempat yang sunyi, maka aku belajar untuk mengandalkan diri sendiri

[chorus]
Aku sudah menetapkan sejak dini,
Untuk tidak akan berjalan di bawah bayang-bayang siapapun
Mau gagal ataupun sukses, setidaknya aku berpegang pada apa yang kupercayai
Tidak peduli apapun yang mereka ambil dariku, tapi mereka takkan bisa merenggut kehormatanku.

Karena cinta yang luar biasa telah terjadi dalam diriku
Aku telah menemukan cinta yang luar biasa itu dalam diriku sendiri
Cinta yang luar biasa itu sangat mudah didapatkan
Belajar untuk mencintai dirimu sendiri adalah cinta yang luar biasa

Dan apabila tempat yang spesial itu
Yang telah kamu impikan itu …
Membawamu kepada tempat yang sunyi
Temukan kekuatanmu di dalam cinta.

Powered by WordPress.com.

Up ↑